Sebab penambahan “Dari fajar”

Asbabun nuzul

Ahmad, Abu Dawud, dan Hakim meriwayatkan dari Mu’adz bin Jabal, ia berkata: Kaum muslimin dulu makan, minum, menggauli istri selama mereka belum tidur. Kalau sudah tidur, mereka tidak mau melakukannya. Namun suatu ketika seorang laki-laki Anshar yang bernama Qish bin Shirma, menunaikan sholat Isya kemudian tidur, dan dia belum makan maupun minum, sehingga pada pagi harinya ia kepayahan. Dan umar pun pernah menggauli isterinya setelah ia tidur , maka keesokan harinya ia menemui nabi saw. dan menceritakan hal itu. Maka Allah menurunkan firman-Nya , “Dihalalkan bagi kamu pada malam hari bulan puasa“ sampai firman-Nya, “kemudian sempurnakanlah itu sampai (datang) malam”.

f. Sebab penambahan “Dari fajar”

Az-Zamakhsyari menulis: seandainya Allah tidak menyebut ungkapan (مِنَ الْفَجْرِ) tentu tidak diketahui bahwa kata khait (benang) dalam ayat ini adalah ungkapan isti’aarah. Setelah ditambah (مِنَ الْفَجْرِ), ungkapan ini berubah menjadi tasybiih baliigh dan bukan lagi tergolong isti’aarah.
g. Tafsir dan penjelasan
Ayat ini mengingatkan dan mengajari kaum mukminin tentang perkara yang mesti mereka perhatikan dalam puasa dan ibadah-ibadah lainnya, seperti ketaatan, keikhlasan, etika, dan hukum-hukum.

h. Hukum-hukum
a) Kebolehan jimak pada malam hari dan keharamannya pada siang hari, sama seperti makan dan minum. Dulu jimak itu haram setelah berbuka dan tidur, kemudian hukum ini dinasakh. Larangan-larangan puasa yang disebutkan dalam ayat ini antara lain: makan, minum, dan jimak. Adapun hal-hal yang hanya mengarah kepada jimak tidak membatalkan puasa. Tetapi dalam hal ini terjadi ikhtilaf di antara ulama.
b) Wajibnya menahan diri dari perkara-perkara yang membatalkan puasa sejak terbitnya fajar hingga terbenamnya matahari dengan syarat niat sebelum fajar menurut jumhur ulama.
c) Jumhur ulama menganggap sah puasa orang yang masih junub ketika fajar terbit.
d) Wanita yang haid apabila telah suci. Jumhur berkata: Apabila wanita yang haid sudah suci sebelum fajar terbit dan ia tidak mandi hingga pagi, ia wajib berpuasa dan puasanya sah, baik ia tidak mandi secara sengaja maupun lupa, sama hukumnya dengan orang yang junub
e) Bekam tidak membatalkan puasa karena Nabi saw. dulu berbekam pada tahun haji Wada’ sementara beliau sedang ihram dan sedang puasa.
f) Barangsiapa ragu bahwa fajar telah terbit, maka ia harus berhenti makan. Jika ia makan padahal ia ragu, ia harus mengqadha, sama seperti orang yang makan karena lupa. Ini menurut Malik. Sedangkan Abu Hanifah dan Syafi’i berkata: Ia tidak menanggung apa-apa sampai jelas baginya bahwa fajar telah terbit. Jika sudah jelas bahwa fajar telah terbit (dan ia makan), ia wajib mengqadha, dengan kesepakatan para imam semua madzhab, dan ini didasarkan atas kaidah: laa ‘ibarata bizhzhannil-bayyini khatha’uhu (dugaan yang jelas kelirunya tidak diperhitungkan).
g) Firman Allah Ta’ala ( ) menunjukkan bahwa puasa wishal terlarang sebab malam merupakan ghaayah (batas akhir) puasa.
Menurut jumhur ulama, puasa wishal hukumnya makruh. Namun sebagian ulama mengharamkannya karena puasa ini bertentangan dengan lahiriah nash al-Qur’an dan tergolong perbuatan meniru ahli kitab.
h) Bagi orang yang berpuasa disunnahkan berbuka dengan beberapa kurma segar, kurma kering, atau beberapa teguk air putih.
Disunnahkan berdoa sesudah berbuka.
i) Disunnahkan berpuasa enam hari di bulan Syawwal.
j) Jimak membatalkan i’tikaf, denngan dalil firman-Nya, “(Tetapi) janganlah kamu campuri mereka itu, sedang kamu beri’tikaf dalam masjid.”
k) Disunnahkan beri’tikaf di masjid.
l) Wajib manaati hukum-hukum (perintah dan larangan) Allah.

Sumber: https://pss-sleman.co.id/