Fabel mengalami perubahan dalam segala bentuk

Fabel kini: Literasi dan Digitalisasi

Fabel mengalami perubahan dalam segala bentuk. Awalnya berupa hasil budaya folklore dari lisan ke lisan mulai beralih menjadi budaya tulis literasi dan kini semakin berkembang sesuai dengan kebutuhan era digital menjadi bentuk komik hingga kartun. Perubahan pola dari struktur yang sederhana menuju struktur yang lebih kompleks atau rumit ini oleh Auguste Comte, Herbert Spencer, dan Emile Durkheim disebut engan pola perubahan linier. Definisinya bahwa fabel mengalami pergeseran, dimana menyesuaikan masyarakat yang selalu brgerak dan berkembang, walaupun perubahan pola ini terjadi secara bertahap dan dalam tempo yang tidak sekejap.

Kedudukan fabel sebagai alat kritik sosial juga tidak lagi sepeti tempo dahulu,

karena semakin berkembangnya teknologi dan semakin bebasnya dalam berpendapat atau mengkritik pemerintah. Fabel awalnya memang menjadi alat untuk mengkritisi pemerintah tanpa ada rasa takut akan hukuman, karena menggunakan binatang sebagai pelaku yang berlagak eperti manusia. Jaman dahulu sangat tidaklah etis langsung mengkritisi pemerintah atau pejabat, hukumannya pun tidak main-main karena hal tersebut bisa dinilai sebagai tindakan makar yang bias dihukum dengan kurungan penjara, bahakan yang paling kejam adalah hukuman mati. Maka satu-satunya cara adalah memberi nasihat kepada pemerintah dengan menggunakan fabel, selain lebih mengandalkan pesan moral berupa nasehat, fabel juga sarat akan lelucon jenaka yang satir menggelitik.

Fabel tampak seperti telah kehilangan tempat, tapi bahwasanya fabel telah mendapat tempat yang baru dalam dunia digitalisasi. Walt Disney adalah pionir dalam bidang ini, memulai karirnya pada tahun 1920-an, seorang kartunis yang ulet dan mempunyai visi yang cemerlang. Ia mulai memproduksi kartun atau gambar bergerak pada tahun 1928 (Thomas, 1994) dengan Mickey Mouse sebagai ikonnya. Ya, seekor tikus yang berlagak seperti manusia. Tak henti disitu banyak hasil karya dari Walt Disney ini mendapat apresiasi dari dunia, utamanya setelah Disney mulai memproduksi kartun-kartun yang mempunyai basis cerita dongeng-dongeng dari seantero dunia. Dongeng-dongeng karya Hans Cristian Andersen juga mulai digarap menjadi film-film terkenal.

Garapan terbaru Disney adalah kartun dengan Zootopia (2016) yang menceritakan satu kota Zootopia yang merupakan kota metropolitan dari dunia binatang, dengan peran protagonist yang diperankan oleh seorang kelinci kecil bernama Judy Hoops yang berusaha mewujudkan mimpinya menjadi seorang polisi. Cerita berlanjut saat terjadi konflik dalam pemerintahan yang memaksa Judy Hoops harus bekerjasama dengan seekor rubah bernama Nick Wilde guna menyelesaikan kasus konsiprasi di Zootopia.

Menurut saya, ini adalah fabel jenis baru yang jenius karena penggambaran binatang sangat mendetail dalam mendalami karakter manusia. Film fabel ini memberikan nama bagi setiap binatang yang berperan, ini adalah hal yang baru dalam kategori fabel. Kita juga bisa langsung mengamati bagaimana binatang-binatang ini memainkan emosi (senang, marah, emosi, menangis) seperti manusia. Film fabel ini juga tidak mengesampingkan kaidah-kaidah fabel dahulu, seperti nilai-nilai moral yang bias diambil dalam film serta kritik-kritik sosial terhadap kehidupan sehari-hari yang berada dalam kota Metroplitan yang multikultural penduduknya.

Harapan ke depannya pastilah kita berharap agar supaya kartun fabel atau film fabel seperti Zootopia mampu diproduksi dengan nilai kearifan lokal literasi yang ada di Indonesia. Haruslah digali lebih mendalam lagi bagaimana fabel modern bisa mendapatkan tempatnya dikalangan masyarakat Indonesia kini yang rasanya kering akan kejenakaan fabel-fabel Indonesia.

SUmber: https://digitalcamera.co.id/