6 Kapasitas Kerja Ergonomi Kehutanan

6 Kapasitas Kerja Ergonomi Kehutanan

Ruang lingkup ergonomi merupakan suatu ilmu yang berangkat dari kenyataan bahwa manusia pekerja memiliki batas-batas kemampuan baik jangka pendek maupun panjang, dimana saat berhadapan dengan lingkungan sistem kerja yang berupa perangkat keras atau hardware (seperti, mesin dan peralatan kerja) dan perangkat lunak atau software (seperti, metode kerja dan sistem).

Ergonomi bertujuan supaya kondisi tenaga kerja dalam kesehariannya dengan keadaan baik-baik, terjamin keadaaan, dan produktivitas kerjanya, sehingga diperlukan adanya keseimbangan yang menguntungkan dari beban kerja, beban tambahan yang diakibatkan dari lingkungan kerja dan kapasitas kerja.

Kapasitas kerja dibagi atas 6, yaitu:

1. Umur

Umur seseorang berbanding langsung dengan kapasitas fisik sampai batas tertentu dan mencapai puncaknya umur 25 tahun. Dimana pada umur 50-60 tahun kekuatan otot menurun sebesar 25% kemampuan sensoris-sensoris menurun sebanyak 60% (Tarwaka et al., 2004).

Bertambahnya umur akan diikuti penurunan, misalnya VO2 max, tajam penglihatan, pendengaran, kecepatan membedakan sesuatu, membuat keputusan dan kemampuan mengingat jangka pendek.

2. Jenis Kelamin

Pada umumnya wanita hanya mempunyai kekuatan fisik 2/3 dari kemampuan fisik atau kekuatan otot laki-laki, tetapi dalam hal tertentu wanita lebih teliti dari laki-laki. Dimana kondisi ini tersebut menyebabkan persentase lemak wanita lebih tinggi dan kadar Hb darah lebih rendah daripada laki-laki (Tarwaka et al., 2004).

Tubuh wanita mempunyai jaringan dengan daya konduksi yang lebih tinggi terhadap panas bila dibandingkan dengan laki-laki. Oleh sebab itu, pekerja wanita akan memberikan lebih banyak reaksi perifer bila bekerja pada cuaca panas.

Berdasarkan hal itu, dalam mencapai daya kerja yang tinggi, maka harus diusahakan pembagian tugas antara pria atau wanita sesuai dengan kemampuan, kebolehan, dan kerterbatasan masing-masing.

3. Antropometri

Analisis antropometri termasuk hal penting dalam menentukan alat dan cara mengoperasikannya. Dimana kesesuaian hubungan antara antropometri pekerja dengan alat yang digunakan berpengaruh pada sikap kerja, tingkat kelelahan, kemampuan kerja, dan produktivitas kerja (Tarwaka et al., 2004).

4. Status Kesehatan dan Nutrisi

Status kesehatan dan nutrisi berpengaruh pada produktivitas dan efesiensi kerja. Dimana melakukan pekerjaan tubuh memerlukan energi, apabila kekurangan baik secara kuantitatif maupun kualitatif kapasitas kerja akan terganggu (Tarwaka et al., 2004).

5. Kesegaran Jasmani

Nala (2001) menyatakan bahwa komponen kesegaran jasmani yang disebut dengan biomotorik, terdiri dari kekuatan, daya tahan, kecepatan, kelincahan, kelentukan, keseimbangan, kekuatan, koordinasi, ketepatan, dan waktu reaksi. Dimana setiap aktivitas pekerjaan melakukan setiap tenaga kerja untuk dituntut dalam memiliki kesegaran jasmani yang baik, sehingga tidak merasa cepat lelah dan performansi tetap stabil untuk waktu yang cukup lama.

6. Kemampuan Kerja Fisik

Kemampuan kerja fisik merupakan kemampuan fungsional seseorang pekerja bertujuan untuk mampu melakukan pekerjaan tertentu yang memerlukan aktivitas otot dalam periode tertentu (Tarwaka et al., 2004).

Menurut Hairy (1989) menyatakan bahwa terdapat komponen kemampuan kerja fisik, terdiri dari:

  1. Kekuatan otot merupakan suatu tenaga maksimum yang dimanfaatkan oleh kelompok otot di bawah kondisi yang ditetapkan. Dimana terdapat 2 macam kekuatan otot yaitu kekuatan otot statis dan dinamis.
  2. Ketahanan otot merupakan suatu tenaga dalam hal kemampuan spesifik kelompok untuk terus melakukan pekerjaan sampai pekerja tidak mampu lagi dalam mempertahankan pekerjaannya.
  3. Ketahanan kardiovaskuler merupakan suatu tenaga untuk pengukuran kemampuan sistem kardiovaskuler dengan melakukan perkerjaan secara terus menerus sampai mencapai kelelahan.

Sumber: https://poekickstarter.com/akhir-november-iphone-x-tiba-di-14-pasar/