11 Sumber dalam Pemanfaatan Peta dan Data Sekunder untuk Karakteristik Sub DAS

11 Sumber dalam Pemanfaatan Peta dan Data Sekunder untuk Karakteristik Sub DAS

Penyidikan degradasi suatu DAS/Sub DAS mirip dengan prosedur diagnose kesehatan manusia atau hewan, yaitu melalui tahap diagnose awal dan diagnose lanjut sebagai dasar untuk melalukan terapi (Paimin et al. 2010).

Dalam sistem pengelolaan Sub DAS, kondisi hidrologi dan produksi merupakan luaran yang bisa memberikan indikasi awal kondisi kesehatan atau degradasi (diagnose awal) suatu DAS/Sub DAS.

Diagnose atau penyidikan lanjut pada daerah tangkapan air (catchment area) baik biofisik maupun sosial ekonomi dan kelembagaan yang dilakukan untuk mengetahui lebih lanjut, tentang (Paimin et al. 2010).

Jenis penyakit atau degradasi.

  1. Faktor penyebab degradasi.
  2. Tempat terjadinya degradasi.

Dalam memperoleh data dan informasi parameter penyusun karakteristik Sub DAS dapat menggunakan dan memanfaatkan data dan peta yang tersedia serta dengan melakukan survei lapangan. Oleh sebab itu, terdapat 11 sumber dalam Pemanfaatan dan penggunaan data sekunder dan peta serta institusi sumber data, sebagai berikut (Paimin et al. 2010).

1. Sumber data debit aliran SPAS (Puslitbang Air dan Dinas Pu Provinsi) yang diperoleh dari Qmaks spesifik, Qmin spesifik, dan Koefisien Rejim Sungai (KRS). Dimana karakteristik DAS, yaitu banjir, kekeringan, dan tata air DAS.

2. Sumber data hujan harian -10 tahun terakhir (Dinas PU, Kecamatan, dan instansi lain) yang diperoleh dari harian maksimum, rata-rata 2 tahunan, jumlah bulan kering (<150 mm/bulan), dan harian kumulatif 3 hari berurutan. Dimana karakteristik DAS, yaitu banjir, kekeringan + IPA, kekeringan, dan tanah longsor.

3. Sumber data peta topografi dan RBI (Bakosurtanal, DEM, dan Jatop TNI AD) yang diperoleh dari morfometri DAS (luas wilayah Sub DAS, bentuk Sub DAS, gradien sungai, lereng rata-rata Sub DAS, dan kerapatan drainase), kelas lereng, penggunaan lahan, jaringan jalan, meandering, percabangan sungai, dan estimasi bentuk lahan. Dimana karakteristik DAS, yaitu banjir, tanah longsor, kekritisan lahan, tanah longsor, dan daerah rawan banjir.

4. Sumber data geologi (Puslitbang Geologi) yang diperoleh dari jenis bantuan dan garis gawir atau patahan sesar. Dimana karakteristik DAS, yaitu kekeringan dan tanah longsor.

5. Sumber data peta tanah (Puslitanak) yang diperoleh dari jenis tanah, estimasi solum tanah, dan estimasi regolit. Dimana karakteristik DAS, yaitu kekritisan lahan dan tanah longsor.

6. Sumber data peta penutupan lahan (Baplan/Dephut dan Pemda) yang diperoleh dari jenis dan persen penutupan lahan. Dimana karakteristik DAS, yaitu banjir, kekeringan, dan tanah longsor.

7. Sumber data peta sistem lahan (RePPProT) yang diperoleh dari bentuk lahan atau fisiografi, jenis tanah, dan geologi. Dimana karakteristik DAS, yaitu banjir, kekritisan lahan, kekeringan, dan tanah longsor.

8. Sumber data peta penggunaan lahan yang diperoleh dari pemilahan pengelolaan dan luas lahan pertanian. Dimana karakteristik DAS, yaitu kekritisan lahan dan kepadatan agraris.

9. Sumber data foto udara yang diperoleh dari penutupan lahan, morfoerosi, jaringan jalan, meandering, percabangan sungai, bentuk lahan, kelas lereng, dan morfometri. Dimana karakteristik DAS, yaitu benjir, kekeringan (IPA), tanah longsor, kekritisan lahan, dan daerah rawan banjir.

10. Sumber data citra satelit yang diperoleh dari penutupan lahan, meandering, dan percabangan sungai. Dimana karakteristik DAS, yaitu banjir, kekeringan (IPA), tanah longsor, kekritisan lahan, dan daerah rawan banjir.

11. Sumber data kabupaten/Kec. dalam angka 5 tahun terakhir (BPS dan Pemda) yang diperoleh dari penduduk (jumlah mata pencarian dan pertumbuhan), pendapatan masyarakat, dan ketenagakerjaan. Dimana karakteristik DAS, yaitu kerpadatan penduduk, TK. Pendapatan masyarakat, dan kegiatan dasar wilayah.