Mahasiswa UMM Dampingi Warga Kampung Ubah Sampah Jadi Berkah

Mahasiswa UMM Dampingi Warga Kampung Ubah Sampah Jadi Berkah

Mahasiswa UMM Dampingi Warga Kampung Ubah Sampah Jadi Berkah
Mahasiswa UMM Dampingi Warga Kampung Ubah Sampah Jadi Berkah

Sulitnya mengolah sampah di suatu kampung atau desa memang menjadi masalah serius. Jika sampah yang menumpuk tersebut tidak segera diselesaikan secara cepat seperti membuangnya ke TPA (tempat pembuangan akhir), maka akan menimbulkan dampak lingkungan yang tidak sehat dan masalah lingkungan lainnya.

Berangkat dari rasa peduli lingkungan, sejumlah anak muda yang tergabung

dalam Kelompok Kuliah Kerja Nyata Pembelajaran Pemberdayaan Masyarakat (KKN PPM) 148 Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) memberikan solusi tentang bagaimana mengolah sampah agar tidak menjadi limbah yang tak memiliki nilai guna.

“Kami ingin memberikan solusi terhadap masalah yang dihadapi warga tentang sampah ini. Selain itu kami juga menerapkan teori yang kami dapatkan di bangku kuliah,” ujar Humas KKN PPM 148, Muhammad Jauzi Nafighair, Jumat (14/6/2019).

Kelompok KKN ini melakukan pendampingan di Desa Tawangargo, Kecamatan Karangploso, Kabupaten Malang. Kelompok KKN PPM 148 ini merupakan KKN khusus kerja sama antara Ristek Dikti dengan UMM.

“Tujuannya agar mahasiswa bisa turun tangan membantu warga menyelesaikan persoalan lingkungan, salah satunya pengelolaan sampah,” paparnya.

Program KKN ini, berjalan selama 2 bulan di mulai bulan Mei lalu hingga akhir Juni nanti.

Meskipun waktunya lama, namun efektifitas KKN dilakukan saat hari Sabtu dan Minggu. Sebagai langkah awal, tim KKN 148 melakukan sosialisasi di salah satu rumah warga bernama Sulistyani, sekaligus ketua Program Keluarga Harapan (PKH).

Sebelum diolah, sampah harus dipisah antara organik dan non organik. Sehingga sampah bisa dimanfaatkan untuk kegiatan ekonomi serta menurunkan resiko rusaknya tanah dan gagalnya panen di sekitar lokasi TPA. Supaya warga sadar bahaya ini, tim ini melatih warga cara mengolah sampah menjadi barang berkah.

“Warga setempat bisa meniru salah satu tokoh lingkungan yaitu Siti Rahayu

, yang mempunyai Kepuh Kreatifia (semacam bank sampah) Dusun Kepuh Selatan, Kepuharjo, Karangploso. Yakni dengan menjadikan sampah sebagai komoditas ekonomi yang menghasilkan lilin, pot, sandal, dan tas,” ujarnya.

Dikatakan Jauzi, materi ini menjadi salah satu perhatian peserta, sebab materi ini nanti warga dilatih mengolah sampah menjadi barang bernilai ekonomi. Saat ini masih tahap pemberdayaan serta memotivasi warga agar memilah sampah organik dan non organik. Setelah dipilah warga diajari untuk mengolahnya.

 

Sumber :

https://pitchengine.com/danuaji/9999/12/31/no-headline/002518285866042657167