Biografi Kyai Sahal Mahfudz

Table of Contents

Biografi Kyai Sahal Mahfudz

Nama lengkapnya KH. M.A. Sahal Mahfudz (selanjutnya disebut bersama dengan Kyai Sahal) adalah Muhammad Ahmad Sahal bin Mahfudz bin Abd. Salam Al-Hajaini lahir di Desa Kajen, Margoyoso, Pati pada tanggal 17 Desember 1937, meninggal di Pati , Jumat 24 Januari 2014 pukul 01.05 WIB.

Beliau adalah anak ketiga berasal dari enam bersaudara yang merupakan ulama kontemporer Indonesia yang disegani dikarenakan kehati-hatiannya didalam bersikap dan kedalaman ilmunya didalam mengimbuhkan fatwa pada masyarakat baik didalam ruang lingkup lokal (masyarakat dan pesantren yang dipimpinnya) dan ruang lingkup nasional.

Sebelum orang mengenal Kyai Sahal, orang akan mengenalnya sebagai sosok yang biasa-biasa saja. Dengan tampilan yang sederhana orang mengira, beliau sebagai orang biasa yang tidak miliki pengetahuan apapun. Namun ternyata pengetahuan dan kepakaran Kyai Sahal sudah diakui. Salah satu contoh, sosok yang menjadi pengasuh pesantren ini dulu bergabung bersama dengan institusi yang bergerak didalam bidang pendidikan, yaitu menjadi anggota BPPN3 selama 2 periode yaitu berasal dari th. 1993-2003.

Kyai Sahal lahir berasal dari pasangan Kyai Mahfudz bin Abd. Salam (w 1944 M) dan Hj. Badi’ah (w. 1945 M) yang sedari lahir hidup di pesantren, dibesarkan didalam lingkungan pesantren, belajar sampai ladang pengabdiannya pun ada di pesantren. Saudara Kyai Sahal yang berjumlah lima orang yaitu, M. Hasyim, Hj. Muzayyanah (istri KH. Mansyur Pengasuh PP An-Nur Lasem), Salamah (istri KH. Mawardi, pengasuh PP Bugel-Jepara, kakak istri KH. Abdullah Salam ), Hj. Fadhilah (istri KH. Rodhi Sholeh Jakarta), Hj. Khodijah (istri KH. Maddah, pengasuh PP Assuniyah Jember yang terhitung cucu KH. Nawawi, adik kandung KH. Abdussalam, kakek KH. Sahal.).

Pada th. 1968/69 Kyai Sahal menikah bersama dengan Dra Hj Nafisah binti KH. Abdul Fatah Hasyim, Pengasuh Pesantren Fathimiyah, Tambak Beras, Jombang dan berputra Abdul Ghofar Rozin yang sejak sekarang sudah dipersiapkan untuk mengambil alih kepemimpinan Kyai Sahal.

Masa Pertumbuhan Kyai Sahal

KH. Sahal Mahfudz dididik oleh ayahnya yaitu KH. Mahfudz dan miliki jalan nasab bersama dengan Syekh Ahmad Mutamakkin, namun KH. Sahal Mahfudz sangat tergoda oleh keyakinan pamannya sendiri, KH. Abdullah Salam. Syekh Ahmad Mutamakkin sendiri terhitung salah seorang pejuang Islam yang gigih, seorang ahli hukum Islam (faqih) yang disegani, seorang guru besar agama dan lebih berasal dari itu oleh masyarakat dianggap sebagai salah seorang waliyullah.

Sedari kecil Kyai Sahal dididik dan dibesarkan didalam dorongan memelihara derajat penguasaan ilmu-ilmu keagamaan tradisional. Apalagi Kiai Mahfudh Salam (yang terhitung bapaknya sendiri) seorang kiai ampuh, dan adik sepupu almarhum Rais Aam NU, Kiai Bisri Syamsuri. Selain itu terhitung terkenal sebagai hafidzul qur’an yang wira’i dan zuhud bersama dengan pengetahuan agama yang mendalam terlebih pengetahuan ushul.

Pesantren adalah area mencari pengetahuan sekaligus area pengabdian Kyai Sahal. Dedikasinya kepada pesantren, pengembangan masyarakat, dan pengembangan pengetahuan fiqh tidak dulu diragukan Pada dirinya terdapat normalitas ketundukan mutlak pada ketetapan hukum didalam kitab-kitab fiqih dan kecocokan total bersama dengan akhlak ideal yang dituntut berasal dari ulama tradisional. Atau didalam arti pesantren, ada dorongan tafaqquh (memperdalam pengetahuan hukum agama) dan dorongan tawarru’ (bermoral luhur).

Ada dua aspek yang merubah asumsi Kyai Sahal yaitu, pertama adalah lingkungan keluarganya. Bapak beliau yaitu Kyai Mahfudz adalah orang yang sangat acuhkan pada masyarakat. Setelah Kyai Mahfudz meninggal, Kyai Sahal sesudah itu diasuh oleh KH. Abdullah Salam, orang yang sangat concern pada kepentingan masyarakat juga. Beliau adalah orang yang mendalami tasawuf terhitung orang yang berjiwa sosial tinggi. Dalam laksanakan suatu hal ada nilai transendental yang diajarkan tidak cuma diamati berasal dari aspek materi. Kyai Mahfudz orang yang cerdas, tegas dan peka pada persoalan sosial dan KH. Abdullah Salam terhitung orang yang tegas, cerdas, wira’i, muru’ah, dan murah hati. Di bawah asuhan dua orang yang luar biasa dan mempunyai karakter kuat inilah Kyai Sahal dibesarkan.

Yang kedua berasal dari aspek intelektual, Kyai Sahal sangat tergoda oleh asumsi Imam Ghazali. Dalam beraneka teori Kyai Sahal banyak mengutip asumsi Imam Ghazali. Selama belajar di pesantren inilah Kyai Sahal berinteraksi bersama dengan beraneka orang berasal dari segala lapisan masyarakat baik kalangan jelata maupun kalangan elit masyarakat yang pada akhirnya merubah asumsi beliau. Selepas berasal dari pesantren beliau aktif di beraneka organisasi kemasyarakatan. Perpaduan antara pengalaman di dunia pesantren dan organisasi inilah yang diimplementasikan oleh Kyai Sahal didalam beraneka asumsi beliau.

Minat baca Kyai Sahal sangat tinggi dan bacaannya memadai banyak terbukti beliau miliki koleksi 1.800-an buku di rumahnya. Meskipun Kyai Sahal orang pesantren bacaannya memadai beragam, diantaranya mengenai psikologi, apalagi novel detektif walaupun bacaan yang menjadi favoritnya adalah buku mengenai agama. Beliau membaca didalam artian konteks kejadian. Tidak heran jika Kiai Sahal (meminjam arti Gus Dur) ‘menjadi jago’ sejak usia muda. Belum lagi genap berusia 40 tahun, dirinya sudah menyatakan kekuatan ampuh itu didalam forum-forum fiqih. Terbukti pada beraneka sidang Bahtsul Masa’il tiga bulanan yang diselenggarakan Syuriah NU Jawa Tengah, beliau sudah aktif di dalamnya.

Kyai Sahal adalah pengasuh Pesantren Maslakul Huda sejak th. 1963. Pesantren di Kajen, Margoyoso, Pati, Jawa Tengah, ini didirikan oleh ayahnya, KH Mahfudz Salam, th. 1910. Sebagai pemimpin pesantren, Kyai Sahal dikenal sebagai pendobrak asumsi tradisional di kalangan NU yang mayoritas berasal berasal dari kalangan akar rumput. Sikap demokratisnya menonjol dan dia mendorong kemandirian bersama dengan memajukan kehidupan masyarakat di sekitar pesantrennya lewat pengembangan pendidikan, ekonomi dan kesehatan.

Pendidikan dan Guru-guru Kyai Sahal

Untuk urusan pendidikan, yang paling berperan didalam kehidupan Kyai Sahal adalah KH. Abdullah Salam yang mendidiknya akan pentingnya pengetahuan dan tingginya cita-cita. KH. Abdullah Salam tidak dulu mendikte seseorang. Kyai Sahal diberi kebebasan didalam menuntut pengetahuan dimanapun. Tujuannya supaya Kyai Sahal bertanggung jawab pada pilihannya. Apalagi didalam menuntut pengetahuan Kyai Sahal menentukan adanya target, hal inilah yang menjadi kunci kesuksesan beliau didalam belajar. Ketika belajar di Mathali’ul Falah, Kyai Sahal berkesempatan mendalami nahwu sharaf, di Pesantren Bendo memperdalam fiqih dan tasawuf, sedangkan sewaktu di Pesantren Sarang mendalami balaghah dan ushul fiqih.

Memulai pendidikannya di Madrasah Ibtidaiyah (1943-1949), Madrasah Tsanawiyah (1950-1953) Perguruan Islam Mathaliul Falah, Kajen, Pati. Setelah lebih dari satu th. belajar di lingkungannya sendiri, Kyai Sahal muda nyantri ke Pesantren Bendo, Pare, Kediri, Jawa Timur di bawah asuhan Kyai Muhajir. Selanjutnya th. 1957-1960 dia belajar di Pesantren Sarang, Rembang, di bawah bimbingan Kyai Zubair (Ayah KH. Maemun Zubair). Pada pertengahan th. 1960-an, Kyai Sahal belajar ke Mekah di bawah bimbingan langsung Syaikh Yasin al-Fadani. Sementara itu, pendidikan kebanyakan cuma diperoleh berasal dari kursus pengetahuan umum di Kajen (1951-1953).

Di Bendo, Kyai Sahal mendalami keilmuan tasawuf dan fiqih terhitung kitab yang dikajinya adalah Ihya Ulumuddin, Mahalli, Fathul Wahab, Fathul Mu’in, Bajuri, Taqrib, Sulamut Taufiq, Safinatun Najah, Sullamul Munajat dan kitab-kitab kecil lainnya. Di samping itu terhitung aktif mengadakan halaqah- halaqah kecil-kecilan bersama dengan teman-teman senior. Sedangkan di Pesantren Sarang, Kyai Sahal mengaji pada Kyai Zubair mengenai ushul fiqih, qawa’id fiqih dan balaghah. Dan kepada Kyai Ahmad beliau mengaji mengenai kitab hikam. Kitab yang dipelajari sementara di Sarang antara lain, Jam’ul Jawami dan Uqudul Juman, Tafsir Baidlowi tidak sampai khatam, Lubbabun Nuqul sampai khatam, Manhaju Dzawin Nazhar karangan Syekh Mahfudz At-Tarmasi dan lain-lain.

Pengabdian-pengabdian Kyai Sahal

Kyai Sahal bukan saja seorang ulama yang senantiasa ditunggu fatwanya, atau seorang kiai yang dikelilingi ribuan santri, melainkan terhitung seorang pemikir yang menulis ratusan risalah (makalah) berbahasa Arab dan Indonesia, dan terhitung aktivis LSM yang mempunyai kepedulian tinggi pada problem masyarakat kecil di sekelilingnya. Penghargaan yang di terima beliau tentang bersama dengan masyarakat kecil adalah penganugerahan gelar Doktor Kehormatan (Doctor Honoris Causa) didalam bidang pengembangan pengetahuan fiqh serta pengembangan pesantren dan masyarakat pada 18 Juni 2003 di Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta.

Peran didalam organisasi pun sangat signifikan, terbukti beliau dua periode menjabat Rais Aam Syuriah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (1999-sampai sekarang) dan Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) berasal dari th. 2000-sekarang. Pada 26 November 1999, untuk pertama kalinya beliau dipercaya menjadi Rais Aam Syuriah PBNU, mengetuai instansi yang menentukan arah dan kebijaksanaan organisasi kemasyarakatan yang beranggotakan lebih 40-an juta orang itu. Kyai Sahal yang pada mulanya selama 10 th. memimpin Majelis Ulama Indonesia (MUI) Provinsi Jawa Tengah, terhitung didaulat menjadi Ketua Umum Dewan Pimpinan MUI pada Juni 2000 sampai sekarang.

Selain pengabdian diatas, pengabdian lain yang sekarang tetap diemban oleh beliau adalah sebagai Rektor INISNU Jepara, Jawa Tengah (1989-sekarang) dan pengasuh Pengasuh Pondok Pesantren Maslakul Huda, Kajen, Pati (1963 – Sekarang).

Sedangkan pekerjaan yang dulu beliau lakukan, adalah guru di Pesantren Sarang, Rembang (1958-1961), Dosen kuliah takhassus fiqih di Kajen (1966-1970), Dosen di Fakultas Tarbiyah UNCOK, Pati (1974-1976), Dosen di Fak. Syariah IAIN Walisongo Semarang (1982-1985), Rektor Institut Islam Nahdlatul Ulama (INISNU) Jepara (1989-sekarang), Kolumnis senantiasa di Majalah AULA (1988-1990), Kolumnis senantiasa di Harian Suara Merdeka, Semarang (1991-sekarang), Rais ‘Am Syuriyah PBNU (1999-sekarang), Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI, 2000-sekarang), Ketua Dewan Syari’ah Nasional (DSN, 2000-2005), dan sebagai Ketua Dewan Pengawas Syari’ah pada Asuransi Jiwa Bersama Putra (2002-sekarang).

Sosok layaknya Kyai Sahal ini kiranya layak menjadi teladan bagi semua orang. Sebagai pernyataan atas ketokohannya, beliau sudah banyak memperoleh penghargaan, diantaranya Tokoh Perdamaian Dunia (1984), Manggala Kencana Kelas I (1985-1986), Bintang Maha Putra Utarna (2000) dan Tokoh Pemersatu Bangsa (2002).

Sepak terjang KH. Sahal tidak cuma lingkup didalam negeri saja. Pengalaman yang sudah didapatkan berasal dari luar negeri adalah, didalam rangka belajar komparatif pengembangan masyarakat ke Filipina th. 1983 atas sponsor USAID, belajar komparatif pengembangan masyarakat ke Korea Selatan th. 1983 atas sponsor USAID, mendatangi pusat Islam di Jepang th. 1983, belajar komparatif pengembangan masyarakat ke Srilanka th. 1984, belajar komparatif pengembangan masyarakat ke Malaysia th. 1984, delegasi NU datang ke Arab Saudi atas sponsor Dar al-Ifta’ Riyadh th. 1987, dialog ke Kairo atas sponsor BKKBN Pusat th. 1992, datang ke Malaysia dan Thailand untuk kepentingan Badan Pertimbangan Pendidikan Nasional (BPPN) th. 1997.

Karya-karya Kyai Sahal

Kyai Sahal adalah seorang ahli fiqih (hukum Islam), yang sejak menjadi santri seolah sudah terprogram untuk menguasai spesifikasi pengetahuan tertentu yaitu didalam bidang pengetahuan Ushul Fiqih, Bahasa Arab dan Ilmu Kemasyarakatan. Namun beliau terhitung mampu mengimbuhkan solusi permasalahan umat yang tak cuma tentang bersama dengan tiga bidang tersebut, contohnya didalam bidang kesegaran dan beliau mendapatkan suatu anggota tersendiri didalam fiqih.

Dalam bidang kesegaran Kyai Sahal mendapat penghargaan berasal dari WHO bersama dengan gagasannya mendirikan taman gizi yang digerakkan para santri untuk menanggulangi anak-anak balita (hampir layaknya Posyandu). Selain itu terhitung mendirikan balai kesegaran yang sekarang berkembang menjadi Rumah Sakit Islam.

Berbicara mengenai karya beliau, pada anggota fiqh beliau menulis kitab layaknya Al-Tsamarah al-Hajainiyah yang membicarakan persoalan fuqaha, al-Barokatu al- Jumu’ah ini berbicara mengenai gramatika Arab. Sedangkan karya Kyai Sahal yang berwujud postingan lainnya adalah:

Buku (kumpulan makalah yang diterbitkan):

Thariqatal-Hushul ila Ghayahal-Ushul, (Surabaya: Diantarna, 2000)
Pesantren Mencari Makna, (Jakarta: Pustaka Ciganjur, 1999)
Al-Bayan al-Mulamma’ ‘an Alfdz al-Lumd”, (Semarang: Thoha Putra, 1999)
Telaah Fikih Sosial, Dialog bersama dengan KH. MA. Sahal Mahfudh, (Semarang: Suara Merdeka, 1997)
Nuansa Fiqh Sosial (Yogyakarta: LKiS, 1994)
Ensiklopedi Ijma’ (terjemahan bersama dengan KH. Mustofa Bisri berasal dari kitab Mausu’ah al-Ij ma’). (Jakarta; Pustaka Firdaus, 1987).
Al-Tsamarah al-Hajainiyah, I960 (Nurussalam, t.t)
Luma’ al-Hikmah ila Musalsalat al-Muhimmat, (Diktat Pesantren Maslakul Huda, Pati).
Al-Faraid al-Ajibah, 1959 (Diktat Pesantren Maslakul Huda, Pati)

Artikel Lainnya : https://tokoh.co.id/biodata-blackpink-all-member-dan-fakta-terlengkap/

Risalah dan Makalah (tidak diterbitkan):

Tipologi Sumber Day a Manusia Jepara didalam Menghadapi AFTA 2003 (Workshop KKNINISNU Jepara, 29 Pebruari 2003).
Strategi dan Pengembangan SDM bagi Institusi Non-Pemerintah, (Lokakarya Lakpesdam NU, Bogor, 18 April 2000).
Mengubah Pemahaman atas Masyarakat: Meletakkan Paradigma Kebangsaan didalam Perspektif Sosial (Silarurahmi Pemda II Ulama dan Tokoh Masyarakat Purwodadi, 18 Maret 2000).
Pokok-Pokok Pikiran mengenai Militer dan Agama (Halaqah Nasional PB NU dan P3M, Malang, 18 April 2000)
Prospek Sarjana Muslim Abad XXI, (Stadium General STAI al-Falah Assuniyah, Jember, 12 September 1998)
Keluarga Maslahah dan Kehidupan Modern, (Seminar Sehari LKKNU, Evaluasi Kemitraan NU-BKKBN, Jakarta, 3 Juni 1998)
Pendidikan Agama dan Pengaruhnya pada Penghayatan dan Pengamalan Budi Pekerti, (Sarasehan Peningkatan Moral Warga Negara Berdasarkan Pancasila BP7 Propinsi Jawa Tengah, 19 Juni 1997)
Metode Pembinaan Aliran Sempalan didalam Islam, (Semarang, 11 Desember 1996)
Perpustakaan dan Peningkatan SDM Menurut Visi Islam, (Seminar LP Ma’arif, Jepara, 14 Juli 1996)
Arah Pengembangan Ekonomi didalam Upaya Pemberdayaan Ekonomi Umat, (Seminar Sehari, Jember, 27 Desember 1995)
Pendidikan Pesantren sebagai Suatu Alternatif Pendidikan Nasional, (Seminar Nasional mengenai Peranan Lembaga Pendidikan Islam didalam Peningkatan Kualitas SDM Pasca 50 th. Indonesia Merdeka, Surabaya, 2 Juli 1995)
Peningkatan Penyelenggaraan Ibadah Haji yang Berkualitas, (disampaikan didalam Diskusi Panel, Semarang, 27 Juni 1995)
Pandangan Islam pada Wajib Belajar, (Penataran Sosialisasi Wajib belajar 9 Tahun, Semarang 10 Oktober 1994)
Perspektif dan Prospek Madrasah Diniyah, (Surabaya, 16 Mei 1994)
Fiqh Sosial sebagai Alternatif Pemahaman Beragama Masyarakat, (disampaikan didalam kuliah umum IKAHA, Jombang, 28 Desember 1994)
Reorientasi Pemahaman Fiqh, Menyikapi Pergeseran

Dan tetap banyak lagi karya dan pengabdian beliau kepada umat Islam Indonesia terlebih dan umat Islam Dunia pada umumnya. Semoga jasa, karya dan pengabdian beliau kepada umat Islam menjadi amal jariyah yang senantiasa mengalir sampai ke akhirat nanti dan menjadi amal ibadah yang di terima Allah swt. Amien Ya Robbal ‘Alamin…

Baca Juga :