REPRODUKSI BUDAYA

Table of Contents

REPRODUKSI BUDAYA

REPRODUKSI BUDAYA
REPRODUKSI BUDAYA

Latar Belakang

Sekelompok orang yang pindah dari satu lingkungan budaya ke lingkungan budaya yang lain, akan mengalami proses sosial budaya yang akan mempengaruhi mode adaptasi dan pembentukan identitasnya (Appadurai, 1994; Ingold.1995). pengelompokan baru, definisi kehidupan sejarah yang baru, dan pemberian makna identitas merupakan kekuatan di dalam mengubah berbagai ekspresi kultural dan tindakan-tindakan sosial para pendatang. Kebudayaan daerah tujuan telah memberi kerangka kultural baru yang karenanya telah turut memberikan definisi dan ukuran nilai bagi sekelompok orang (Featherstone, 1990). Dalam makalah ini akan mencoba menjelaskan tentang reproduksi budaya yang semoga dapat memberikan gambaran secara lebih jelas tentang bagaimana masyarakat atau individu melakukan reproduksi budayanya sehingga dapat turut menambah khasanah pengetahuan kita tentang kebudayaan di dalam masyarakat.

Rumusan Masalah

1.      Apa yang dimaksud dengan reproduksi budaya?

2.      Bagaimana proses terjadinya reproduksi budaya dalam masyarakat?

3.      Faktor apa saja yang mempengaruhi masyarakat mengalami reproduksi budaya?

Pengertian Reproduksi Budaya

Proses reproduksi kebudayaan merupakan proses aktif yang menegaskan keberadaannya dalam kehidupan sosial sehingga mengharuskan adanya adaptasi bagi kelompok yang memiliki latar belakang kebudayaan yang berbeda. Proses semacam ini merupakan proses sosial budaya yang penting karena menyangkut dua hal. Pertama, pada tataran masyarakat akan terlihat proses dominasi dan subordinasi budaya terjadi secara dinamis yang memungkinkan kita menjelaskan dinamika kebudayaan secara mendalam. Kedua, pada tataran individual akan dapat diamati proses resistensi di dalam reproduksi identitas budaya sekelompok orang di dalam konteks sosial budaya tertentu. Proses adaptasi ini berkaitan dengan dua aspek, yakni ekspresi kebudayaan dan pemberian makna akan tindakan-tindakan individual. Dengan kata lain, hal ini menyangkut dengan cara apa sekelompok orang dapat mempertahankan identitasnya sebagai suatu etnis di dalam lingkungan sosial budaya yang berbeda.

Salah satu tokoh sosiologi kontemporer, yakni Peirre Bourdieu juga mengemukakan kajian analitisnya tentang reproduksi kebudayaan. Melalui konsepnya tentang habitus dan arena serta hubungan dialektis antara keduanya, Bourdieu mengemukakan analitisnya tentang reproduksi kebudayaan.

Habitus adalah “struktur mental atau kognitif” yang dengannya orang berhubungan dengan dunia sosial. Orang dibekali dengan skema yang terinternalisasi yang mereka gunakan untuk mepersepsi, memahami, mengapresiasi, dan mengevaluasi dunia sosial. Melalui skema inilah orang menghasilkan praktik mereka, mempersepsi dan mengevaluasinya (Bourdieu, 1998: 18). Sebenarnya, kita dapat menganggap habitus sebagai “akal sehat” (common sense) (Holton, 2000). Habitus diperoleh sebagai akibat dari ditempatinya posisi di dunia sosial dalam waktu yang panjang. Habitus bervariasi tergantung pada sifat posisi seseorang di dunia sosial, tidak semua orang memiliki habitus yang sama. Namun, mereka yang menempati posisi sama di dunia sosial cenderung memiliki habitus yang sama (Bourdieu, 1990: 13).

Arena adalah sejenis pasar kompetitif yang di dalamnya terdapat berbagai jenis modal (ekonomi, sosial, budaya, simbolis) yang digunakan dan dimanfaatkan. Ada sejumlah arena semi otonom di dunia sosial (misalnya, artistik, religius, perguruan tinggi), yang kesemuanya memiliki logika spesifik tersendiri dan semuanya membangun keyakinan di kalangan aktor tentang hal-hal yang mereka pertaruhkan di suatu arena. Bourdieu melihat arena, menurut definisinya, sebagai arena pertempuran: “Arena juga merupakan arena pertempuran” (Bourdieu dan Wacquant, 1992: 101). Kalau habitus ada di dalam pikiran aktor, maka arena berada di luar pikiran mereka.

Lewat salah satu karyanya yang berjudul Distinction, Bourdieu menerangkan penerapan habitus dengan arena. Dalam karyanya tersebut, ia mencoba menunjukkan bahwa kebudayaan dapat menjadi objek sah dari study ilmiah, hal yang lebih spesifik lagi dari kebudayaan, dia menganalisis selera akan masakan yang dimasak khusus dan berselera tinggi dengan makanan yang hanya terbuat dari bahan-bahan pokok. Selera, menurut Bourdieu merupakan praktik yang di antaranya memberi individu, maupun orang lain, pemahaman akan statusnya di masyarakat. Selera menyatukan mereka yang berada pada posisi yang sama dan membedakannya dari mereka yang memiliki selera berbeda. Secara langsung maupun tidak, dengan selera maka orang akan mengklasifikasikan dirinya sendiri pada tataran kelas-kelas sosial tertentu. Selera adalah kesempatan baik untuk menyatakan posisi seseorang dalam arena dan membawa dampak bagi kemampuan seseorang yang berada kelas yang tinggi untuk lebih mampu membuat selera mereka diterima dan menentang selera mereka yang berada pada kelas yang lebih rendah.

Bourdieu menghubungkan selera dengan salah satu konsep utamanya yaitu habitus. Selera lebih banyak dibentuk oleh penempatan-penempatan yang membentuk kesatuan tak sadar suatu kelas dan mengakar kuat serta bertahan lama, habitus memberikan kita akan pemahaman makna akan bentuk dari hasil kebudayaan seperti perabot, pakaian, dan masakan. Bourdieu selanjutnya mengemukakannya dengan lebih menarik: “selera adalah pengatur pertandingan……yang didalamnya habitus menegaskan kedekatannya dengan habitus lain” (1984a: 243). Kendati arena dan habitus adalah dua hal penting bagi Bourdieu, namun yang paling penting adalah hubungan dialektis diantara keduanya; bahwa arena dan habitus saling memberi arti satu sama lain. Dalam bentuk yang lebih umum, Bourdieu menjelaskan: “terdapat hubungan erat antara posisi sosial dan disposisi agen yang mendudukinya” (1984a: 110). Dalam kehidupan masyarakat, suatu tindakan yang sama dapat memperoleh suatu makna dan nilai yang berbeda atau bahkan bertolak belakang jika dilakukan di arena yang berbeda, di konfigurasi yang berbeda, atau di sektor yang saling bertolak belakang di  arena yang sama.

Bourdieu melihat kebudayaan sebagai semacam ekonomi, atau pasar. Di dalam pasar ini orang lebih memanfaatkan modal budaya ketimbang ekonomi. Modal budaya ini sebagian besar diperoleh dari latar belakang daerah asal dan pendidikannya. Di pasar inilah orang yang memiliki modal menggunakannya sehingga mampu meningkatkan posisi atau malah mengalami kerugian, yang pada gilirannya menyebabkan merosotnya posisi dirinya di dalam ekonomi.

Bourdieu (1998a: 9) berusaha keras menjelaskan bahwa ia tidak sekedar berargumen. Namun, ia menjelaskan bahwa tujuan utamanya adalah: “bahwa hadir dalam ruang sosial, menduduki suatu posisi atau menjadi individu dalam suatu ruangan sosial, berarti membedakan, menjadi berbeda…..ditempatkan di suatu ruangan tertentu, seseorang…dibekali dengan kategori persepsi, dengan skema klasifikasi, dengan selera tertentu, yang memungkinkannya menciptaan perbedaan, membedakan, dan memilah-milah” (Bourdieu, 1998a: 9)

Pemahaman tentang proses reproduksi budaya yang menyangkut bagaimana “kebudayaan asal” direpresentasikan dalam lingkungan baru, namun hal ini masih sangat terbatas. Penelitian kesukubangsaan umumnya menitik beratkan kebudayaan sebagai “pedoman” dalam adaptasi dan kelangsungan hidup (Barth, 1988) sehingga lebih melihat aspek produktif dari sebuah kebudayaan. Sementara itu, aspek reproduktif yang menjadi kecenderungan baru di dalam menjelaskan perubahan-perubahan kontemporer (Appandurai, 1994; Hannerz, 1996; Olwig & Hastrup, 1997; Strathern, 1995), masih kurang diperhatikan. Dalam konteks Indonesia, diskusi yang mengarah pada proses pemaknaan kembali kultur daerah asal ini masih bersifat baru, khususnya dalam memberikan pemahaman baru tentang konteks sosial budaya yang berubah-ubah.

Perubahan ruang sosial telah memyebabkan perubahan pada kebudayaan. Mobilitas yang terjadi telah mempengaruhi identitas kelompok melalui penggunaan simbol-simbol baru. Kecenderungan ini didorong juga oleh media massa yang kemudian menyebabkan kebudayaan bersifat rerpoduktif.

Sumber : https://jalantikus.app/