Proses Reproduksi Budaya

Table of Contents

Proses Reproduksi Budaya

Proses Reproduksi Budaya
Proses Reproduksi Budaya

Reproduksi kebudayaan adalah proses penegasan identitas kebudayaan yang dilakukan oleh pendatang, yang dalam hal ini menegaskan kebudayaan asalnya. Sedangkan proses reproduksi budaya merupakan proses aktif yang menegaskan keberadaannya dalam kehidupan sosial sehingga mengharuskan adanya adaptasi bagi kelompok yang memiliki latar belakang kebudayaan yang berbeda.

Reproduksi kebudayaan dilatarbelakangi oleh perubahan wilayah tempat tinggal, latar belakang sosial, latar belakang kebudayaan, yang pada akhirnya akan memberikan warna bagi identitas kelompok dan identitas kesukubangsaan (Abdullah, 2001; Anderson, 1991; Barth, 1998). Perubahan tersebut sejalan dengan mobilitas yang dilakukan manusia yang kini kian mencolok sejak abad ke 20

Mobilitas sosial membuat lingkungan sosial budaya setiap orang berubah-ubah sehingga setiap orang sering kali dihadapkan pada nilai-nilai baru yang mengharuskan setiap orang menyesuaikan diri secara terus menerus. Dengan demikian terdapat dua kemungkinan yang akan terjadi. Pertama, terjadi adaptasi cultural para pendatang dengan kebudayaan tempat ia bermukim, yang menyangkut adapatasi nilai dan praktik keeidupan secara umum.kebuadayaan local menjadi kekuatan baru yang memperkenalkan nilai-nilai kepada pendatang, meskipun tak sepenuhnya memiliki daya paksa. Namun, proses reproduksi kebudayaan local,menjadi pusat orientasi nilai suatu masyarakat dan mempengaruhi mode ekspresi diri setiap orang. Kedua, proses pembentukan identitas individual yang dapat mengacu kepada nilai-nilai kkebudayaan asalnya. Bahkan mampu ikut memproduksi kebudayaan asalnya di tempat yang baru. Sehingga dalam hal ini kebudayaan disebut sebagai imagined values yang berfungsi dalam fikiran setiap orang sebagi pendukung dan yang mempertahankan kebudayaan itu meskipun seseorang berada diluar lingkungan kebudayaannya.

Kini di era globalisasi pengaruih media dalam mendistribusikan kebudayaan global yang secara langsung dapat mempengaruhi gaya hidup. Iklan sebagai salah satu media yang  turut bekontribusi dalam mendiostribusikan kebudayaan global telah mampu membentuk pasar baru dan mendidik pemuda untuk menjadi konsumen. Kehidupan sehari-hari yang menjadi basis pembentukan imagine telah didikte oleh pasar dan institusi terkait. Hal tersebut dapat terlihat jelas pada masyarakat kota, dimana ruang-ruang konsumsi telah terbentuk akibat dari ekspansi pasar yang di dukung oleh revolusi teknologi elektronik dan revolusi teknologi komunikasi.

Tentu saja hal tersebut menciptakan kelas-kelas tertentu dimana setiap kelas mempunyai habitus yang berbeda-beda dalam hal ini adalah selera. Dimana simbol-simbol baru pada tiap kelas mempengaruhi pembentukan identitas. Pada titik ini ketika setiap lingkuanag sosial budaya tiap kelas berubah maka akan terjadi penyesuaian dan adaptasi. Sehingga dapat dikatakan bahwa ketika konteks sosial berubah maka makna sosial dan individual suatu kebudayaan juga berubah. Karena konteks sosial memberikan makna pada tindakan-tindakan individual.

Sumber : https://uptodown.co.id/