Situasi dan juga Kondisi Politik Masa Kedatangan Islam

Situasi dan juga Kondisi Politik Masa Kedatangan Islam

Situasi dan juga Kondisi Politik Masa Kedatangan Islam. Kedatangan Islam di bermacam tempat Indonesia ternyata tidaklah bersamaan, kerajaan-kerajaan dan juga daerah-daerah yang didatangi mempunyai situasi politik dan juga sosial-budaya yang berbeda pula. Pada pas kerajaan Sriwijaya mengembangkan kekuasaannya pada kurang lebih abad ke-7 dan 8, Selat Malaka udah merasa dilewati oleh para pedagang muslim di dalam pelayarannya ke negeri-negeri di Asia Tenggara dan Asia Timur. Berdasarkan berita Cina di pas Zaman T’ang, pada abad-abad tersebut dianggap masyarakat Muslim udah ada, baik di Kanfu (Kanton) maupun di tempat Sumatera. Perkembangan pelayaran, perdagangan, yang bersifat Internasional antara negeri-negeri di Asia bagian barat dan timur yang kemungkinan disebabkan oleh aktivitas kerajaan Islam di bawah Banu Umayyah di bagian barat maupun kerajaan Cina zaman dinasti T’ang di Asia Timur, dan juga kerajaan Sriwijaya di Asia Tenggara.

Usaha-usaha kerajaan Sriwijaya di dalam meluaskan kekuasaannya ke tempat Semenanjung Malaka hingga tempat Kedah sanggup dihubungkan bersama dengan bukti-bukti prasasti Ligor 775, berita-berita Cina dan Arab abad ke-8 hingga ke-10. Hal itu erat hubungannya bersama dengan bisnis Selat Malaka yang merupakan kunci bagi pelayaran dan perdagangan Internasional. Kedatangan orang-orang Islam di Asia Tenggara dan Asia Timur pada taraf permulaannya kemungkinan belum merasa akibat-akibatnya bagi kerajaan-kerajaan di negeri-negeri tersebut. Karena usaha-usaha mereka, cuma di dalam taraf menjelajahi masalah-masalah di bidang pelayaran dan perdagangan. Tetapi pada abad ke-9 bersama dengan terjadinya pemberontakan petani-petani Cina Selatan pada kekuasaan T’ang era pemerintahan Kaisar Hi-Tsung (878-889) di mana orang-orang Muslim ikut serta. Akibat berasal dari hal tersebut banyak orang-orang Muslim dibunuh, dan mereka mencari dukungan ke Kedah, maka bagi orang-orang Muslim artinya udah lakukan kegiatan-kegiatan politik. Kegiatan mereka mengerti mempunyai akibat bagi kekuasaan T’ang dan Sriwijaya. Sriwijaya yang kekuasaannya kala itu meliputi tempat Kedah, melindungi orang-orang Muslim tersebut. Syed Naguib al- Attas menyebutkan bahwa orang-orang Muslim yang diperkirakan sejak abad ke-7, udah memiliki perkampungan di Kanton menunjukan kegembiraannya melihat derajat keagamaan yang tinggi dan otonomi pemerintahan; di mana mereka bakal memelihara kelangsungan perkampungan dan juga organisasi masyarakatnya di Kedah dan di Palembang.

Kerajaan Sriwijaya berasal dari abad ke-7 hingga bersama dengan abad ke-12 di bidang ekonomi dan politik tetap membuktikan kemajuannya, tetapi sejak akhir abad ke-12 merasa menunjukan kemundurannya yang prosesnya terbukti pada abad ke-13. Tanda- tanda kemunduran Sriwijaya di bidang perdagangan, th. 1178 berasal dari berita Chou Ku-Fei di dalam Ling-wai-tai-ta menceritakan bahwa persediaan barang-barang perdagangan di Sriwijaya mahal-mahal, sebab di negeri tersebut tidak ulang membuahkan banyak hasil alam. Untuk menghindar kemunduran kerajaan Sriwijaya diperdagangan yang kemungkinan juga berdampak di bidang politik, maka kerajaan tersebut mengupayakan pencegahan yakni di antaranya sebabkan ketentuan cukai yang lebih berat ulang bagi kapal-kapal dagang yang singgah di pelabuhan-pelabuhannya. Hal tersebut ternyata bukannya mendatangkan hasil penghasilan yang lebih menguntungkan, justru lebih merugikan, sebab kapal-kapal dagang seringkali menyingkiri pelabuhan-pelabuhan, menembus blokirnya dan menuju tempat-tempat yang mereka ketahui banyak membuahkan barang-barang dagangan.

Kemunduran di bidang perdagangan dan politik kerajaan Sriwijaya itu di percepat oleh usaha-usaha kerajaan Singasari di Jawa yang merasa mengadakan ekspedisi Pamalayu pada th. 1275. Pengiriman arca Amoghapaca sebagai perlambangan ayah raja Kertanegara kurang lebih th. 1286, merupakan pengukuhan kekuasaaannya pada kerajaan Melayu di Sumatera. Pengaruh politik Kertanegara pada Kerajaan Melayu merupakan bisnis untuk mengecilkan politik dan perdagangan Sriwijaya yang mula-mula menguasai kunci pelayaran dan perdagangan Internasional, lewat Selat Malaka. Selain itu juga merupakan peluang untuk membuktikan diri lepas berasal dari kekuasaan kerajaan tersebut.

Sejalan bersama dengan kelemahan yang di alami kerajaan Sriwijaya pedagang-pedagang Muslim yang kemungkinan pula terdiri berasal dari muballigh-muballighnya lebih berkesempatan untuk selama mendapatkan keuntungan dagang dan keuntungan politik. Mereka jadi pendukung daerah-daerah yang muncul; dan membuktikan dirinya sebagai negara yang bercorak Islam ialah kerajaan Samudra-Pasai, terdapat di pesisir timur laut Aceh, Kabupaten Lhok Seumawe atau Acceh Utara kini. Munculnya kerajaan tersebut sebagai kerajaan yang bercorak Islam, diperkirakan merasa abad ke-13, sebagai kerajaan Islam pertama di Indonesia. Hal itu kemungkinan besar, hasil sistem Islamisasi di daerah-daerah pantai yang pernah disinggahi pedagang-pedagang Muslim sejak abad ke-7, 8 dan seterusnya. Daerah lain yang masyarakatnya udah banyak memeluk agama Islam ialah Perlak, yang dibuktikan bersama dengan terdapatnya berita Marco Polo yang singgah di tempat itu th. 1292.

Kerajaan Samudra Pasai berkembang bersama dengan baik di bidang politik maupun perdagangan dan juga pelayaran. Hubungan bersama dengan Malaka juga makin berkembang dan juga ramai sehingga di tempat itu pun sejak abad ke-14 timbul masyarakat Muslim. Masyarakat muslim di Malaka makin berkembang, meluas, dan selanjutnya pada awal abad ke-15 nampak pusat kerajaan Islam baru. Perkembangan ini, mengerti terjalin bersama dengan keruntuhan kerajaan Sriwijaya, yang dipercepat oleh efek kekuasaan kerajaan Majapahit sejak pertengahan abad ke-14.

Demikianlah, ulasan yang sanggup kami sampaikan, untuk lebih mengerti dan lengkap anda sanggup membaca buku: Marwati Djoened Poesponegoro Nugroho Notosusanto, 1993. Sejarah Nasional Indonesia III. Jakarta: Balai Pustaka. Semoga referensi di atas sanggup berfaedah untuk kami semua.

Baca Juga :